3 Negara Perwakilan ASEAN Takjub, Atas Pengelolaan Wisata BUMDESda Kutuh Kabupaten Badung

Kondisi inilah yang membuat takjud perwakilan negara Vietnam, Thailand dan Malaysia yang hadir, yang juga memiliki program pembangunan desa di negaranya.

Dalam kesempatan diskusi, perwakilan negara Malaysia bahkan mengajak desa Kutuh untuk bekerjasama program pelatihan bagi kepala-kepala desa Malaysia , baik dalam bentuk bencmarking maupun program sejenisnya, juga sebaliknya bisa dilakukan kunjungan desa Kutuh ke Desa-desa Negara Malaysia.

Perwakilan Vietnam bahkan terkesima atas majunya desa Kutuh dalam bisnis wisata yang dilakukan BUMDES-da, terus terang “belum ada kondisi desa-desa di Negara Vietnam yang sepadan dengan Desa Kutuh” begitu ujarnya.

BACA JUGA:  Sukseskan Quick Wins Sulbar Berdaya, Dinas Koperindag Sulbar Audiensi dengan Kampus dan Perbankan di Polman

Menurut Kepala Desa Kutuh I Nyoman Mudana, kunjungan wisata sebelum tejadinya Pandemi Covid 19 mencapai 20 ribu orang wisatawan, namun sejalan dengan berkurannya wabah Pandemi covid 19 saat ini rata-rata dikunjungi oleh 5 ribu wisatawan baik domestik maupun mancanegara.

Pandemi Covid 19 yang melanda secara Global, memberikan hikmah yang luar biasa bagi Masyarakat Desa Kutuh, yang selama ini hanya mengandalkan pengelolaan desa wisata, ke depan perlu diprogramkan diversifikasi usaha masyarakat seperti usaha pertanian , karena terdapat potensi lahan pertanian sampai 30 persen dari total luas wilayahnya, sehingga bisa memasok produk pertanian terutama kebutuhan wisata lokal dan ke wilayah lainnya.

BACA JUGA:  Lewat Kolaborasi dan TTG, Koperindag Sulbar dan Unsulbar Dorong Peningkatan Kualitas Minyak Kelapa di Majene

Hal menarik pengalaman dalam pengembangan inovasi yang dilakukan Desa untuk mengentaskan kemiskinan adalah semangat 3 K yaitu harus ada Kemauan, Kemampuan dan Keberanian, itu yang dicetuskan para pendahulu tokoh Desa yang sampai saat ini telah menjadi semboyan dalam membangun desa Kutuh.

Dalam hal keberanian sebagaimana yang dijelaskan oleh Kades Kutuh, para pendahulu tokoh masyarakat sebelumnya bahkan sering disebut “GILA” karena terlalu beraninya dalam mengimplementasikan program terutama untuk meningkatkan kesejahteraan warga. Untuk kemajuan desa semua dipertaruhkan, dan desa Kutuh telah membuktikan bahwa saat ini tidak ada lagi warganya yang miskin bahkan hidup miskin ekstrem. (*)