Dari perspektif perbankan, Agus dari Bank Sulselbar menyampaikan komitmennya dalam mendukung para pelaku UMKM. Ia memaparkan berbagai produk pembiayaan dan skema kredit yang dapat diakses, mulai dari KUR (Kredit Usaha Rakyat) hingga program khusus untuk startup dan usaha rintisan.
“Bank tidak hanya melihat bisnis yang sudah jadi. Kami sangat terbuka untuk mendukung ide-ide bisnis yang kreatif dan memiliki prospek pasar yang baik. Yang dibutuhkan adalah proposal bisnis yang matang, dan di sinilah peran inkubator sangat vital untuk menyiapkan para calon entrepreneur tersebut,” tegas Agus.
Puncak dari talkshow yang dinanti-nanti adalah terjalinnya sebuah komitmen bersama untuk segera mewujudkan Inkubator Bisnis Mamasa. Kesepakatan ini melibatkan tiga pilar utama dengan perannya masing-masing:
Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Mamasa akan menyediakan dukungan tempat dan fasilitas sebagai home base bagi inkubator bisnis, sekaligus menjadi garda depan dalam menyebarkan literasi kewirausahaan. Bank Sulselbar Cabang Mamasa berkomitmen memberikan dukungan pembiayaan dan pendampingan finansial bagi UMKM binaan yang lolos seleksi. Dinas Koperindag Sulbar akan memberikan pendampingan dan mentoring secara online oleh para mentor bisnis profesional, memastikan para peserta inkubator mendapatkan ilmu yang terstruktur dan aplikatif.
Kolaborasi tiga sektor ini dinilai sangat tepat dan efektif, memadukan kekuatan fasilitas, pendanaan, dan ilmu.
Keberhasilan talkshow ini menjadi bukti nyata bahwa semangat tidak hanya sebuah slogan, tetapi sebuah aksi kolektif. Festival Literasi Mamasa 2025 berhasil memperluas makna literasi, dari sekadar membangun minat baca menjadi membangun kemandirian ekonomi.
Dengan adanya cetak biru inkubator bisnis ini, diharapkan lahir para pelaku UMKM Mamasa yang tidak hanya tangguh secara lokal, tetapi juga siap bersaing di kancah regional Sulbar bahkan nasional, mendongkrak perekonomian daerah dan menciptakan lapangan kerja yang lebih luas. (Rls)