Bupati Dampingi Tim Kemendes PDTT Terima Warga Transmigrasi

Pasangkayu,EKSPOSSULBAR.CO.ID– Desa Bambakoro, Kecamatan Lariang, kembali kedatangan 50 kepala keluarga (KK) warga transmigrasi, dimana 20 KK berasal dari Kabupten Cirebon, Jawa Barat, sedang 30 KK sisanya berasal dari warga lokal, Kamis 13 Oktober.

Disertai dengan kedatangan tiga direktur dari Kementrian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT). Yakni, Direktur Pembangunan Kawasan Transmigrasi Kemendes PDTT, Nirwan Helmi, Direktur Perencanaan Perwujudan Kawasan Transmigrasi Kemendes PDTT, Bambang Widyatmiko, dan Direktur Pengembangan Satuan Pemukiman dan Pusat Satuan Kawasan Pengembangan, Kemendes PDTT, Abd. Rosyid.

Ikut mendampingi, Bupati Pasangkayu Yaumil Ambo Djiwa, unsur pimpinan forum komunikasi pimpinan daerah (forkopimda), serta sejumlah pimpinan organisai perangkat daerah (OPD) Pemprov Sulbar dan Pemkab Pasangkayu.

BACA JUGA:  Penataan Pasar Desa sebagai Upaya Mengokohkan Pilar Kebangsaan

Bupati Yaumil, berharap, para transmigran bisa segera menyesuaikan diri dengan adat dan kebiasaan masyarakat setempat. Membangun semangat kebersamaan dan gotong royong, serta selalu mengedepankan prinsip musyawarah.

Ia juga berjanji, ikut membantu membenahi sarana dan prasarana dikampung transmigrasi itu. Seperti pengaspalan ruas jalan, serta pemenuhan listrik PLN baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun untuk kebutuhan pengelolaan tambak.

” Kehadiran transmigrasi di Pasangkayu sejak dahulu, terbukti telah mendukung kemajuan pembangunan. Mereka mampu memotivasi semangat kerja masyarakat lokal. Saya harap transmigrasi pola tambak ini, dapat mengikuti keberhasilan transmigrasi pola perkebunan yang sudah ada di Pasangkayu sebelumnya” harap bupati.

BACA JUGA:  Lonjakan Penumpang di Pelabuhan Mamuju Jelang Idul Adha Tembus 448 Orang

Direktur Pembangunan Kawasan Transmigrasi Kemendes PDTT, Nirwan Helmi, menyebut transmigrasi dengan pola tambak udang di UPT. Tanjung Cina, Desa Bambakoro, ditarget bisa menjadi percontohan bagi transmigrasi didaerah lain dengan pola serupa.

Sebab, pola tambak di Bambabokoro merupakan pertama di Indonesia. Selama ini, pola transmigrasi yang telah banyak dilakukan yakni, pola perkebunan, tambak ikan, dan nelayan.

” Kenapa warga Cirebon yang dibawa kesini, karena orang-orang disana, memang sudah ahli dalam bertambak udang. Kami harap disini dapat menunjukan keberhasilanya dalam mengelola tambak, dan keahlianya itu dapat ditularkan pada petambak lokal” ujar Nirwan.

BACA JUGA:  Lonjakan Penumpang di Pelabuhan Mamuju Jelang Idul Adha Tembus 448 Orang

Sambung dia, pihaknya akan melakukan pendampingan dan pembinaan selama lima tahun kedepan. Ditahun awal bertujuan untuk menyuplai bahan-bahan yang masih dibutuhkan para transmigran, kemudian tahun berikutnya untuk pemantapan, dan ditahun terakhir diharap bisa mewujudkan kemandirian para transmigran.

” Kami sudah melihat dan mendengar langsung apa saja yang masih dibutuh para transmigran disini. Insya Allah akan kami penuhi secara bertahap. Tapi intinya, keberhasilan para transmigran, terletak pada semangat kerja, pantang menyerah, dan kedisiplinan. Itu yang menjadi modal dasar, dan bisa ditularkan pada penduduk setempat” harapnya.(*)