Orasi Ilmiah di UNM, Gubernur Sulbar Dorong Perguruan Tinggi Kuasai Teknologi Pengolahan Tanah Jarang
- account_circle Ekspos Sulbar
- calendar_month 1 jam yang lalu

Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka.
“Yang menjadi rebutan dunia adalah yang dikenal dengan mineral kritis, yaitu rare earth atau biasa disebut tanah jarang,” pungkas Suhardi Duka.
Suhardi Duka mengatakan, hasil penelitian menunjukkan adanya potensi tanah jarang di Sulawesi Barat dengan deposit yang besar dan kualitas yang dinilainya sangat baik. Karena itu, ia menyebut Sulbar tidak hanya memiliki posisi strategis bagi Indonesia, tetapi juga berpotensi memiliki arti penting bagi dunia.
“Sesungguhnya Sulawesi Barat adalah masa depan Indonesia dan masa depan dunia. Siapa yang menguasai tanah jarang atau rare earth, itulah yang memainkan geopolitik dunia,” tegasnya.
Ia mencontohkan China yang saat ini menjadi salah satu kekuatan utama dalam penguasaan tanah jarang, baik dari sisi cadangan maupun teknologi pengolahannya. Menurutnya, Indonesia tidak cukup hanya memiliki deposit tanah jarang. Penguasaan teknologi untuk memisahkan dan mengolah unsur-unsur tanah jarang menjadi faktor yang sangat menentukan.
“Memiliki kandungan saja tidak cukup untuk bisa memainkan geopolitik. Kita juga harus menguasai teknologi,” beber Suhardi Duka.
Dalam konteks tersebut, Suhardi Duka mendorong perguruan tinggi mengambil peran strategis dalam pengembangan teknologi pengolahan tanah jarang. Ia menyebut sejumlah perguruan tinggi di Indonesia telah mulai melakukan upaya untuk menguasai teknologi pemisahan unsur-unsur tanah jarang.
Perguruan tinggi, kata dia, harus menjadi bagian dari strategi Indonesia dalam mengubah kekayaan sumber daya alam menjadi kekuatan ekonomi dan teknologi.
“Pertanyaan bagaimana dengan penguasaan teknologi, saya kira geopolitik itu harus dijawab oleh perguruan tinggi karena memiliki kandungan saja tidak cukup,” tuturnya.
Selain potensi mineral kritis, Suhardi Duka mengatakan, Sulbar memiliki sejumlah sektor unggulan lain yang dapat menjadi penopang ekonomi daerah. Ia menyebut perkebunan sawit dengan luasan sekitar 108 ribu hektare, kakao sekitar 140 ribu hektare, serta potensi sektor pertanian, termasuk padi dan jagung.
Menurutnya, berbagai potensi tersebut harus dikelola secara optimal dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat Sulbar. Di hadapan para wisudawan UNM, Suhardi Duka menekankan bahwa tantangan pembangunan ke depan membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga mampu menguasai teknologi dan membaca perubahan dunia.
Ia berharap generasi muda dan perguruan tinggi dapat menjadi bagian penting dalam menjawab tantangan tersebut sehingga kekayaan sumber daya alam Indonesia, termasuk Sulbar, dapat benar-benar menjadi kekuatan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (Rls)
- Penulis: Ekspos Sulbar

