Sulbar juga menjadi fokus program pembangunan transmigrasi pemerintah, dengan keberagaman suku dan budaya seperti Mandar, Bugis, Toraja, Jawa, Bali, Sunda, dan Lombok yang hidup berdampingan dengan toleransi tinggi.
“Namun demikian, toleransi antar umat beragama sangat baik, toleransi antarsuku juga sangat baik, dengan demikian gesekan-gesekan dan hal-hal seperti itu jarang kita temukan di Sulbar ini,” pungkasnya.
Meski memiliki potensi besar, Sulbar masih menghadapi tantangan kemiskinan yang relatif tinggi, sekitar 10 persen, namun tingkat pengangguran lebih rendah dari rata-rata nasional, hanya sekitar 2 persen. Selain itu, daerah ini kaya akan potensi tambang, termasuk sumber daya tanah jarang yang strategis, yang rencananya akan dikelola secara bijak untuk masa depan.
Gubernur Suhardi Duka menutup sambutannya dengan menyampaikan filosofi orang Mamuju, “Punna muinum do uwai tabarna to Mamuju, to Mamuju do too,” yang berarti, siapa pun yang telah minum air putih di Mamuju, maka ia sudah menjadi bagian dari Mamuju.
“Punna’ muinum do uwai tabarna to Mamuju, to Mamuju do too artinya kalau bapak sudah minum air putihnya orang Mamuju, berarti bapak sudah orang Mamuju,” tutur Suhardi Duka. (Rls)