Catatan dari Desa Bela-Kopeang: Negara yang Belum Sampai di Ujung Jalan
- account_circle Ekspos Sulbar
- calendar_month 3 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Desa Bela hanyalah satu potret kecil.
Di Sulawesi Barat, masih banyak wilayah dengan kondisi serupa—tersebar di hampir semua kabupaten.
Sementara itu, kemampuan fiskal daerah berada dalam tekanan. APBD yang kini sekitar Rp 1,8 triliun pasca efisiensi, membuat ruang pembangunan tidak bisa menjawab seluruh kebutuhan secara bersamaan.
Di titik ini, saya sampai pada satu kesimpulan dari diskusi bersama Gubernur: bahwa pendekatan pembangunan kita harus berubah.
Wilayah seperti Bela tidak bisa ditangani dengan cara biasa. Tidak bisa dengan pendekatan proyek tahunan. Tidak bisa hanya mengandalkan kemampuan daerah.
Kita membutuhkan keberanian untuk menghadirkan kebijakan afirmatif.
Kebijakan yang mampu menembus sekat antara kehutanan, infrastruktur, dan pelayanan dasar.
Jika tidak, maka negara akan terus hadir secara simbolik—datang saat krisis, namun absen dalam kehidupan sehari-hari. Program padat karya yang akan dijalankan tahun ini adalah langkah penting. Tetapi itu baru awal.
Karena yang dibutuhkan Desa Bela bukan sekadar program. Yang mereka butuhkan adalah kepastian—bahwa suatu hari nanti, jalan itu benar-benar selesai. Bahwa pelayanan kesehatan tidak lagi bergantung pada waktu tempuh berjam-jam. Bahwa mereka tidak lagi menjadi “wilayah yang dimaklumi”.
Desa Bela mengajarkan kita satu hal yang sering kita lupa: pembangunan bukan soal apa yang kita bangun,
tetapi siapa yang belum kita jangkau.
Dan selama masih ada wilayah seperti Bela, kita belum selesai sebagai sebuah negara. (*)
- Penulis: Ekspos Sulbar
