Sambangi Pasangkayu, Ini yang Disampaikan Tim Korsup KPK

ekspossulbar.com, PASANGKAYU — Tim Koordinasi dan Supervisi (Korsup) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyambangi Pasangkayu, Kamis 6 September. Untuk memperkuat upaya pencegahan korupsi di kabupaten paling utara Sulbar ini.

Dalam rapat monitoring dan evaluasi (monev) yang dihadiri oleh Bupati Pasangkayu Agus Ambo Djiwa dan Wakil Bupati Muhammad Saal, serta seluruh jajaran birokrasi Pemkab Pasangkayu, tim Korsup KPK menyampaikan delapan hal untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih dan efisien.

Pertama, Pemkab diminta untuk segera melakukan integrasi e-Planning dan e-Budgeting. Integrasi itu dinilai akan menjaga kesinambungan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan. Kemudian Standar Satuan Harga (SSH) dan Analisis Standar Biaya (ASB) harus ditarik kedalam proses perencanaan. Agar kebutuhan barang dan biaya belanja di masing-masing OPD bisa diefisienkan.

BACA JUGA:  Empat Pilar Kebangsaan, Membangun Generasi Emas Indonesia

“Dari hasil kajian dan pengamatan kami, banyak program yang telah direncanakan secara baik tapi kemudian pada tataran pelaksanaan banyak intervensi dan hal yang masuk belakangan yang tidak sesuai dengan perencanaan. Dan itu akhirnya merusak visi misi kepala daerah” terang tim Korsup KPK Korwil Sulawesi, Tri Gamareva.

Kedua, Tim Korsup KPK mengaku aktif melakukan koordinasi dengan pemerintah pusat dalam rangka penguatan regulasi pengadaan barang dan jasa. Agar sektor pengadaan barang dan jasa tidak mudah dimanipulasi yang berujung pada terjadinya korupsi.

Ketiga, Pemkab diminta untuk mempermudah sistem pelayanan satu pintu, melalui perbaikan sistem pelayanan dan peningkatan integritas dan kualitas para pegawai OPD yang dimaksud. Keempat, pemaksimalan fungsi APIP (Aparat Pegawasan Intern Pemerintah) dengan melakukan peningkatan kapasitas dan kapabilitas APIP.

BACA JUGA:  Empat Pilar Kebangsaan, Membangun Generasi Emas Indonesia

“ Kelima, yakni terkait Tunjangan Perbaikan Penghasilan (TPP). Pemberian TPP harus berdasarkan indikator-indikator yang telah ditentukan oleh regulasi yang ada. Tidak hanya berdasarkan esalonisasi. Kami ingin pemberian TPP memperhatikan kinerja, beban kerja, resiko kerja, kesulitan kerja dan capaian kerja. Kami tidak ingin, pemberian TPP sama rata dan sama rasa” tegas Tri Gamareva.

Keenam, Pemkab diminta aktif melakukan pendampingan terhadap perencanaan dan penggunaan Dana Desa (DD). Agar penggunaannya terarah, berkesinambungan, tepat sasaran dan sinkron dengan visi misi bupati. Ketujuh, Pemkab diminta untuk mengidentifikasi dan mengoptimalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

“ Kedelapan, terkait manajemen dan pemanfaatan aset. Untuk kabupaten pemekaran, jika menemui kesulitan dalam pemindahan aset dari kabupaten induk, KPK siap memfasilitasi untuk menyelesaikan permalasahan tersebut. Masalah aset ini sangat menjadi perhatian BPK, bahkan bisa mempengaruhi opini yang didapatkan suatu daerah” sebutnya.

BACA JUGA:  Empat Pilar Kebangsaan, Membangun Generasi Emas Indonesia

Bupati Pasangkayu Agus Ambo Djiwa, mengaku sangat mengapresiasi kehadiran tim Korsup KPK di kabupaten yang dipimpinnya. Ia menyebut akan memberi pencerahan dalam upaya pencegahan terjadinyan tindak pidana korupsi.

“ Sehingga dengan kehadiran bapak ibu (tim Korsup KPK. red), bisa memberi pencerahan dan gambaran kepada kami tentang langkah-langkah apa yang mesti kami lakukan untuk mencegah terjadinya korupsi serta untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih” ujar bupati dua periode itu. (has)