Tokoh Adat dan Gereja Gelar Perayaan 100 Tahun Masuknya Injil ke Tanah Kalumpang
- account_circle Ekspos Sulbar
- calendar_month 1 jam yang lalu

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Gubernur Sulbar Suhardi Duka, Bupati Mamuju Sutinah Suhardi dan sejumlah tokoh lainnya saat menghadiri perayaaan 100 tahun injil masuk di tanah Kalumpang, 2 November 2026. --Chalid/Ekspos s Sulbar.
EKSPOSSULBAR.CO.ID, MAMUJU – Masyarakat di Tanah Kalumpang, Kabupaten Mamuju, Sulbar, bersiap memperingati satu abad masuknya Injil ke Tanah Kalumpang. Perayaan ini diisi dengan rangkaian kegiatan sejarah, keagamaan, seni, dan budaya yang dipusatkan di Tamalea Baru, 27 Oktober hingga 2 November 2026.
Perayaan 100 Tahun Injil Masuk Tanah Kalumpang (IMTK) ini menjadi momentum penting untuk mengenang perjalanan sejarah leluhur sekaligus memperkuat identitas masyarakat Kalumpang di tengah keberagaman budaya.
Ketua Panitia 100 Tahun IMTK, Amri Ekasakti, mengatakan bahwa peringatan tersebut berakar dari sejarah seorang tokoh adat atau Tobara Tamalea ke-22 yang berniat menerima Injil pada 1926 silam.
Seratus tahun kemudian, masyarakat Kalumpang kembali mengenang peristiwa bersejarah tersebut melalui perayaan satu abad. Menurut Amri, berbagai kegiatan telah dirancang untuk menghubungkan generasi sekarang dengan sejarah awal masuknya Injil ke wilayah tersebut.
Salah satu agenda utamanya adalah napak tilas sejarah untuk mengenang perjalanan leluhur dalam menerima Injil. Kegiatan ini dipusatkan di makam leluhur, Rinding Batu Pongkapadang, yang dikenal dengan gelar Tosondo Dilangi atau Toibala Bassi.
“Napak tilas ini bertujuan agar kita lebih dekat dengan sejarah awal, mengenang perjalanan dan perjuangan leluhur dalam menerima Injil di Tanah Kalumpang,” ujar Amri.
Selain kegiatan sejarah, panitia juga menggelar penguatan iman melalui kebaktian penyegaran rohani yang dipimpin oleh Pendeta Yandi Manobe. Kegiatan ini menjadi bagian dari refleksi spiritual masyarakat dalam memperingati perjalanan iman selama satu abad.
Rangkaian perayaan juga dimeriahkan dengan pagelaran seni dan budaya sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur yang berperan dalam penerimaan Injil sekaligus mempertahankan adat istiadat Kalumpang. Berbagai pertunjukan disiapkan, termasuk tarian kolosal, tarian massal, serta Tari Sayo khas masyarakat Kalumpang.
Amri menjelaskan, pertunjukan tersebut menjadi simbol upaya menyelaraskan adat dan iman, sekaligus menunjukkan bahwa kehidupan beragama dapat berjalan berdampingan dengan pelestarian tradisi leluhur.
- Penulis: Ekspos Sulbar

