OPPO dan Vivo adalah dua raksasa teknologi di bawah naungan BBK grup. Induk perusahaan dari Oppo, Vivo ini juga tengah mengevaluasi penggunaan Android dalam jangka panjang.
Keduanya dikabarkan ikut mendukung pengembangan sistem operasi lokal melalui kerja sama dalam proyek bernama OpenHarmony, varian open-source dari HarmonyOS.
Sumber dalam industri menyebut bahwa OPPO dan Vivo tengah mempersiapkan perangkat masa depan yang tidak lagi bergantung pada layanan Google, terutama untuk pasar China dan negara-negara berkembang.
Honor dengan MagicOS: Teknologi Lokal sebagai Fokus
Honor, merek yang dulu berada di bawah naungan Huawei, kini juga memperkenalkan sistem operasi sendiri bernama MagicOS. Versi terbaru, MagicOS 9.0, dikembangkan dengan kernel buatan sendiri, mencerminkan niat serius perusahaan untuk membangun alternatif dari Android.
Honor menyebut bahwa fokus utama mereka adalah memberikan pengalaman pengguna yang lebih mulus, aman, dan terintegrasi melalui sistem berbasis teknologi lokal.
Tantangan dan Dampak Global
Langkah kolektif pabrikan China ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan pembatasan ekspor teknologi dari Amerika Serikat. Namun, meskipun ambisi mereka besar, tantangan utama tetap pada ekosistem aplikasi. Android memiliki jutaan aplikasi, sementara sistem baru ini masih dalam tahap awal pengembangan.
Untuk menyaingi dominasi Android dan iOS, produsen China harus menggandeng lebih banyak pengembang pihak ketiga, serta meyakinkan konsumen untuk beralih ke ekosistem baru.
Kesimpulan
Gelombang baru sistem operasi mandiri dari pabrikan China bisa menjadi awal dari pergeseran besar dalam industri smartphone global. Bila berhasil, dominasi Android bisa mulai tergoyahkan, terutama di pasar domestik China dan negara-negara berkembang. Namun, jalan menuju kemandirian teknologi ini masih panjang dan penuh tantangan. (*)