Wafatnya Sang Perintis Pendidikan dan Bantuan Hukum Gratis
- account_circle Ekspos Sulbar
- calendar_month Sen, 6 Jun 2022
- comment 0 komentar

In memoriam A. Rudyanto Asapa
Sehari setelah wafatnya almarhum A.Rudyanato Asapa saya tergerak untuk menuliskan sosok dan kiprah almarhum dalam kancah gerakan masyarakat sipil dan pemerintahan. Alasanya sederhan saja yakni untuk merawat ingatan kita sekaligus mengenang jasa almarhum.
Mengenal A. Rudyanto Asapa
Saya mengenal nama A. Rudyanto Asapa pertama kali saat masih mahasiswa awal di Fakultas Hukum Unhas. Pagi itu di awal 90-an usai jam Kuliah pertama
saya bergeser ke perpustakaan fakultas. Maklum sebagai mahasiswa hukum baru lagi ranum-ranumnya berburu bacaan dan referensi selain pengajaran langsung dari para dosen di depan ruang kuliah.
Seperti jamaknya perpustakaan hukum dimana rak-rak lemari dipenuhi oleh sebagian besar buku-buku dan referensi perundang-undangan termasuk versi bahasa Belanda. Secara tak sengaja saya menelisik katalog skripsi, karena tertarik dengan judulnya saya meraih salah satunya. Jika tidak salah judulnya “penerapan Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 …” (kajian normatif:kepustakaan) ditulis oleh A. Rudyanto Asapa.
Setelah itu di penhujung akhir studi, beberapa kali bertemu dan mulai berinteraksi dengan sosok almarhum. Saat itu LBH menjadi salah satu tempat di luar kampus yang “aman” untuk kami melakukan pertemuan dan berdiskusi atas issu-issu hukum dan politik. Bahkan ketika itu Kantor LBH menjadi tempat berlindung sebagian aktivis mahasiswa dari intain atau kejaran aparat keamanan. Beberapa kali kami “menculik” dan membawa aktivis LBH Ujung Pandang maupun aktivis YLBHI ke dalam kampus Tamalanrea diantaranya Adnan Buyung Nasution, Teten Masduki, Hendardi.
Intensitas interaksi saat menjadi relawan Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) dimana almahum adalah pendiri dan ketua Koordinator Presidum KIPP Sulsel tahun 1997. Mulai dari pelatihan relawan yang saat itu dibubarkan oleh intel hingga proses pemantuan dugaan pelnaggaran pemilu. Almarhum dengan setia mengkoordinir langusng pengurus dan mengorganisir kami sebagai relawan. Karena ketika itu suasana masih represif dan tidak bebas berkumpul kerja-kerja pemantauan pun masih dilakukan secara silent dan underground. Termasuk saat proses input data dugaan pelanggaran, lampu kantor LBH sengaja dipadamkan sebagian untuk menghindari incaran para intel.
Setelah itu paska Orde Baru, almarhum memilih terjun di kanca politik yang kemudian membawanya terpilih menjadi Bupati Sinjai dua periode. Kendatipun demikian Interaksi masih terus terjalin dalam kapasitasnya sebagai salah satu dewan pembina YLBHI-LBH.
Dari NGO ke Pemerintahan
Kiprahnya di gerakan masyarakat sipil (CSO) tidak bisa dilepaskan dari kepemimpinannya sebagai direktur YLBHI-LBH Makassar di era Orde Baru. Latar belakangnya sebagai pengacara profesional tidak menyurutkan komitmen almarhum pada penegakan hukum dan Demokrasi yang ditunjukkan lewat pemihakannya pada masyarakat miskin dan marjinal.
- Penulis: Ekspos Sulbar

